Bukan Belanda, Kue Kering Lebaran Ternyata Asal-Usulnya dari Persia

 0  4
Bukan Belanda, Kue Kering Lebaran Ternyata Asal-Usulnya dari Persia
Pedagang kue kering di Blok 1-2 Pasar Senen Jaya, Jakarta, Senin (8/4/2024). Foto: Ghifari/Kumparan
Pedagang kue kering di Blok 1-2 Pasar Senen Jaya, Jakarta, Senin (8/4/2024). Foto: Ghifari/Kumparan

Hidangan kue kering di meja ruang tamu menjadi pemandangan yang umum menjelang Lebaran. Bahkan ketika bersilaturahmi dari rumah ke rumah, setidaknya pasti menemukan satu jenis kue kering di rumah mereka.

Banyak yang bilang kalau kue-kue kering khas Lebaran seperti nastar hingga kastengel dibawa oleh Belanda saat masa kolonialisme. Namun, tahukah kamu kalau sebenarnya kue kering sendiri sudah mendapatkan pengaruh Islam jauh sebelum pendudukan Belanda di Nusantara?

Teknologi Kue Kering Berasal dari Persia

Ilustrasi ghorayeba, kue kering asal Timur Tengah. Foto: Stanislav71/Shutterstock
Ilustrasi ghorayeba, kue kering asal Timur Tengah. Foto: Stanislav71/Shutterstock

Tim kumparan berkesempatan mewawancarai Arif Subekti, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), terkait asal-usul kue kering khas Lebaran di Indonesia. Menurutnya, kue kering bukan berasal dari Eropa, melainkan dari Persia.

Pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin setelah wafatnya Rasulullah (sekitar abad ke-7) , menurut Arif, ajaran Islam sudah disebarkan hingga Persia oleh para penerusnya. Pada masa itu, bangsa Persia menemukan teknologi pembuatan kue kering yang kemudian dibawa hingga wilayah Eropa. Teknologi yang dimaksud adalah teknik pemurnia gula tebu. Di wilayah Persia sendiri sudah muncul teknologi itu, teknologi kue kering itulah. Nah, orang Islam inilah yang kemudian menyebarkan ke wilayah Eropa. Jadi lucu, [kue kering] kita asalnya kayaknya lho ya dari Persia, tapi [sebelum ke Indonesia] ke Eropa dulu," jelas Arif ketika dihubungin kumparan, Minggu (15/3).

Kemudian, menurut Arif, alasan kue kering bisa sampai hingga Indonesia karena dibawa oleh bangsa Belanda, terutama para noninya. Pada tahun 1869, tepatnya setelah pembukaan Terusan Suez, para perempuan Belanda mulai berdatangan ke Hindia Belanda.

Arif Subekti, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM). Foto: Dok. Pribadi
Arif Subekti, dosen Ilmu Sejarah Universitas Negeri Malang (UM). Foto: Dok. Pribadi

Menurut Arif, para perempuan Belanda mulai masif berdatangan ke Hindia Belanda pada 1870-an. Para noni Belanda yang gemar memakan koekjes, atau yang kini disebut sebagai kukis, kemudian mulai belajar memasak kudapan tersebut.

Salah seorang perempuan Belanda bernama Josephine Maria Jacoba Catenius-van der Meijden, kata dia, menulis buku resep yang berjudul "Visser's Nederlandsch-Indisch vegetarisch kookboek" (1911) dan mencantumkan resep kue kering di dalamnya.

Kue kering, menurut Arif, disajikan oleh orang Belanda pada saat "tea uurtje" yang merupakan waktu menyantap hidangan sore sambil minum teh. Tidak hanya itu, kue kering juga disajikan saat hari raya Natal, di mana mayoritas orang Belanda pada saat itu menganut agama Kristen.

"Nah, ketika hari raya [Natal] ini ada orang-orang elit bumiputera yang biasanya diundang untuk menghadiri rumah-rumah [orang Belanda] atau open house gitulah. Maka mereka merasakan [kue kering] ini gitu," ungkap Arif.

Ilustrasi kue beras Persia. Foto: Velveteye/Shutterstock
Ilustrasi kue beras Persia. Foto: Velveteye/Shutterstock

Di sisi lain, tambah Arif, orang-orang pribumi suka memberikan hampers ke orang Belanda ketika Natal berupa makanan, pun sebaliknya. Orang Belanda juga suka memberikan hampers ke elit Pribumi setiap hari raya Lebaran.

Bahkan, Arif juga mengatakan, dalam buku "Kartini: The Complete Writings 1898-1904" (2014) karangan Coté, sejarawan dari Australia, menyebutkan bahwa Kartini dan adik-adiknya senang jika ada makanan khas Belanda di rumahnya ketika hari raya.

"Perlu diketahui dia [Kartini] hidup di akhir abad 19. Artinya, mungkin di periode ini persilangan itu sudah mulai banyak muncul pertukaran [makanan] kayak gitu lah," tambah Arif.

Kue Kering Khas Lebaran di Nusantara

Pekerja menyelesaikan produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/3/2023). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
Pekerja menyelesaikan produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (30/3/2023). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

Setiap lingkar budaya, menurut Arif, memiliki ciri khasnya masing-masing, tak terkecuali dalam perihal kue kering khas Lebaran. Misal, kue semprong yang menjadi kue khas Lebaran di Magelang belum tentu populer di wilayah lain, seperti Semarang.

"Ya saya kira [kue kering] khas itu sebanyak lingkar budaya atau etnis di Nusantara," ungkap Arif.

Sementara itu, dalam artkel ilmiah Prastowo dkk berjudul "Diversity of Indonesian Lebaran Dishes: from History to Recent Business Perspectives" (2024) dalam Journal of Ethnic Foods, ada 18 jenis kue kering khas Lebaran di Indonesia. Setiap daerah punya kue keringnya masing-masing.

Dalam skala Nasional, menurut Prastowo dkk, Indonesia mengenal sembilan jenis kue kering, seperti kaastengel, nastar, kue putri salju, kue semprit, kue kacang, kue sagu, kue lidah kucing, kue kuping gajah, dan sumpia ebi. Sedangkan, Jakarta mengenal empat jenis kue kering, yaitu kue satu, kue biji ketapang, kue kembang goyang, dan kue akar kelapa.

Kemudian, menurut Prastowo dkk, Riau mengenal tiga macam kue kering, yaitu kue makmur, kue bangkit, dan kue kacang pukul. Adapun NTB yang mengenal satu jenis kue kering bernama temerodok dan Sulawesi Selatan yang juga mengenal satu jenis kue kering bernama kacipo.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
Redaksi Kami berkomitmen memberikan pelayanan informasi yang cepat dan tepat